Deru
ombak menderai-derai di kejauhan sana. Semilir angin seakan membuat manusia
masih ingin tertidur. Para nelayan pun berpulangan membawa rejeki untuk
keluarganya. Lain dengan ayah dan ibuku, mereka sedari tadi sudah bangun
bersiap-siap ke mushala untuk salat subuh.
Ayahku
memang seorang kiai yang sangat disegani oleh warga, seorang alumni Pondok
Pesantren Babul Khaer, KH.Munawir Al-Irfan demikian nama ayahku. Lain dengan
ibuku, dia adalah seorang arsitek yang serba sibuk, akan tetapi tugas seorang
ibu dan istri tidak ditinggalkan, Ir. Masyitoh itulah nama ibuku cantik bukan
??
Dari
kecil ayah dan ibuku selalu mengajar aku untuk selalu bersikap jujur dari
segala tindakan yang kulakukan agar kemudian hari kita dapat berguna bagi diri
sendiri maupun orang lain. Sehingga mereka berdua memberi aku nama Rabiah
Al-Adawiah, katanya nama itu adalah nama seorang mistikus yang sangat tinggi
derajatnya, dan dikenang sebagai ibu para sufi besar ( The Mother From the
Grand Master ) dan sampai meninggal beliau dipuji sebagai ( Testimony of Belief
), mendengar cerita mereka aku sangat beruntung mendapat nama itu.
Dari
tahun ke tahun aku bertambah besar, dan usiaku sudah mencapai 21 tahun, diusia
yang tidak anak-anak lagi akupun selalu ikut dalam kegiatan sosial. Sebagai
alumni Pondok Pesantren Babul Khaer seperti ayah, aku selalu aktif dalam
kegiatan sosial keagamaan.
Hingga
pada akhirnya aku dikuliahkan di Universitas Muslim Indonesia (UMI) jurusan
dakwah, pada awalnya ibu berencana menjadikan aku seperti dia yaitu seorang
arsitek, tapi atas kemauan ayah dan aku, ibu jadi ngalah.
Selama
3 bulan kuliah dan tinggal di tempat kos aku cukup senang, punya banyak teman,
dan lebih senangnya lagi aku ditawari beasiswa ke Mesir dengan alasan aku anak
yang cerdas, baik hati, dan juga satu-satunya mahasiswa yang hafal Al-Quran 30
jus, sungguh pujian yang sangat luar biasa.
Hingga
pada suatu hari saat berkumpul dengan sahabatku, tiba-tiba aku berniat untuk
mengambil pulpen akan tetapi tanganku rasanya tidak bisa menjangkau pulpen itu,
dan itu sungguh mengagetkan aku terlebih-lebih para sahabatku, mereka menyangka
aku punya penyakit, tapi aku hanya beralasan ini hanya kejadian biasa kok.
***
Minggu
yang panas, aku teringat dengan kejadian saat berkumpul dengan sahabatku, aku
berniat memeriksakan ke Rumah Sakit terdekat. Setelah diperiksa oleh seorang
dokter, aku diminta untuk menunggu hasil laboratorim yang katanya tidak lama.
Setelah
menerima hasil lab. Aku kaget dan tidak percaya akan hal yang menimpa diriku.
Ataksia, iya itulah penyakitku. Mungkin penyakit itu terlalu asing bagi diriku
tapi apa yang harus aku lakukan, penyakit itu sudah ada dalam tubuhku. Dan
akupun terdiam memikirkan apa yang harus aku lakukan, aku tak mau kedua orang
tuaku tahu akan penyakitku, itu sama
saja membuat mereka sedih. “Ya Allah apa yang harus aku perbuat’”.
Sampai di rumah, aku hanya terdiam di dalam
kamar, tiba-tiba aku melihat di atas meja ada sepujuk surat ternyata dari ayah
ibu.
Untuk
sicantik
Rabiah Al-Adawiah
Apa kabar nak?semoga kamu selalu dalam lindungan ilahi.Amin.Kami di sini baik-baik saja dan sangat merindukanmu.
Oh
ya nak, ayah dengar kamu ditawari beasisiwa ke Mesir karena kamu hafal
Al-Quran, kamu memang anak ayah yang paling cerdas. Ayah dan ibu berharap kamu
menerima tawaran itu, karena itu penawaran yang sangat langka, dan kami sungguh
bangga padamu dan jangan lupa kamu tetap bersikap baik kepada orang lain dan
jujurlah dari segala apa yang kamu perbuat.Demikian
yah surat dari ayah semoga kamu dapat mengambil keputusan yang berguna bagi
kamu dan orang lain.
Yang
Merindumu
Ayah
dan Ibu
Melihat
surat ayah aku jadi menangis, keduanya sangat menyayangiku dan menginginkan aku
untuk menerima beasiswa itu, dan akupun tidak ingin mengecewakannya, dan soal
penyakitku itu mungkin hanya Allah yang tahu.
Matahari
sudah terbit di sebelah timur, burung-burung sementara sibuk mengurus
sarangnya, saatnya berangkat ke kampus untuk membicarakan tentang beasiswa yang
aku setujui dan harapan aku dan kedua orang tuaku sebentar lagi akan segera
terwujud.
Sepulang
dari kampus aku langsung ke toko buku membeli beberapa kitab, tiba-tiba aku
teringat surat dari ayah pastinya mereka menunggu balasan dariku, aku cepat-cepat
pulang dan langsung menulis surat balasan.
Untuk
Yang Terkasih
Ayah
dan Ibu
Maaf
yah ayah, Abia baru balas surat ayah. Alhamdulillah kabar Abia baik-baik aja
dan semoga ayah dan ibu juga masih dalam lindungan sang khalik. Amin.
Ayah
ibu terima kasih yah sebelumnya akan ketulusan cinta kalian kepadaku dan
mengenai tawaran beasiswa itu aku terima dengan pertimbangan matang-matang,
dengan salat istikharoh 3 malam berturut-turut.Oh
ya, sudah tengah malam nih dan aku akan melanjutkan penghafalan Al-Quranku.
Dari
Anakhda
Rabiah
Al-Adawiah
Malam
yang melelahkan, aku harus memperbaiki hafalanku karena besok pagi aku akan
pergi menuntut ilmu di bumi Kinanah (salah satu julukan untuk bumi Mesir).
Hingga
tiba saatnya aku harus pergi menuntut ilmu di negeri orang, sungguh berat
rasanya meninggalkan kedua orang tua dan teman-teman, apalagi kepergianku ini
tidak dihadiri kedua orang tuaku. Tapi apa boleh buat semua prosedur sudah saya
tanda tangani ditambah lagi mengenai penyakitku. Hanya keajaiban Tuhanlah yang
dapat mengubahnya.
Waktu
menunjukkan pukul 15.00 waktu Mesir rombongan kami sampai di bandara , sungguh
sangat menakjubkan, kota sejarah ini dapat memikat kami hingga kami menyerukan
Allahuakbar Allahuakbar.
Sebelum
pergi ke rumah yang akan kami tempati, kami akan singgah terlebih dahulu di
Universitas Al Azhar yang nantinya akan menjadi tempat di mana aku menimba
ilmu, insya Allah.Sepulang dari Al Azhar saatnya kami pergi ke rumah baru, di
sana banyak mahasiswa yang berasal dari Indonesia, saya sangat senang, kami
cepat akrab dengan mereka karena mereka baik-baik dan lebih senangnya lagi ada
mahasiswa dari Bulukumba.
Rumah
yang kami tinggali berlantai lima dan kamar kami berada di lantai dua,
sedangkan di lantai pertama mayoritas mahasiswanya dari Jerman, mereka tinggal
berempat dan semuanya laki-laki, merekapun sangat ramah kepada kami.
***
Hari
pertama masuk kuliah, aku dan teman-teman berencana naik metro mini yang
katanya selain murah juga mengasyikkan, dan sebagai orang baru akupun menurut,
tampa saya sadari ketika berniat mengjangkau tempat duduk rasanya aku tidak
dapat bergerak, para penumpang heran dengan kejadian itu, sampai pada akhirnya
teman-teman mendesakku untuk menceritakan semua yang terjadi padaku, dan akupun
menceritakan semuanya mengenai penyakitku dan ketidaktahuan kedua orang tuaku
akan hal ini.
Mendengar
ceritaku semua penumpang metro mini terdiam, entah apa yang mereka pikirkan
mungkin sangat membenciku atau sebaliknya merasa kasihan denganku. Lain dengan penumpang yang duduk di
belakangku, Shafhun Jamil yang juga menjadi tetangga rumah kosku dia malah
menggertakku dan merasa benci kepadaku.
“hy
orang Indonesia, kamu tahu nggak kamu itu beruntung masih punya orang tua yang sayang
padamu tapi, mengapa kamu kecewakan mereka dengan kebohonganmu itu, kamu
sungguh keterlaluan,”bentak Shafhun.
Tiba-tiba
dari arah depan datang seorang pemuda paruh baya, seakan dia membelaku.
“Akhi,kamu
ini berpendidikan, kamu sangat lancang dalam mengucapkan suatu perkataan tampa
mengetahui pokok permasalannya, tahu nggak apa yang barusan akhi ucapkan itu
sudah dapat menyakitkan hati orang lain, apalagi seorang perempuan, mungkin dia
punya alasan tertentu sehingga dia tidak memberitahukan orang tuanya,”seloroh
pemuda tersebut.
Mendengar
pemuda itu, Shafhun kembali duduk di tempatnya semula dan keadaan di metro mini
pun kembali senyap, hanya ada beberapa orang yang berbisik mengenai kejadian
tadi.
***
Panas
di siang hari memang menjadi andalan setiap hari negeri Mesir.Tak urung setiap
liburan, kami yang tinggal di lantai dua hanya bisa bersenda gurau di dalam
kamar dan sesekali mengulang materi pelajaran atau kembali mengulang hafalan
Al-Quran.
Mengingat
kejadian di metro mini, aku langsung ingat mengenai penyakitku selama tinggal
di Mesir aku belum pernah pergi periksa ke dokter, dan rencananya sore nanti
aku akan mengajak khumairah untuk menemaniku ke PUSKESMAS.
Sore
akhirnya tiba, suhu di luar rumah pun mulai turun,dan Khumairah sudah menunggu
dari tadi, tepat pukul 16.00 kami berangkat ke PUSKESMAS, di sana banyak sekali
pengunjung dan sesekali kami melihat beberapa orang yang di bopong masuk ke
dalam ruang UGD dalam hati saya memikirkan betapa sedihnya orang tuaku jika
mereka tahu akan penyakitku pastinya mereka akan seperti keluarga pasien
seperti yang kami lihat sekarang, mengurus inilah, mengurus itulah.
Dalam
lamunanku, tiba-tiba Khumairah menarik lenganku menuju ruang dokter yang kami
tuju, dokternya ramah dan mampu berbahasa Indonesia, saya pun diajak ke ruang
pemeriksaan. Setelah diperiksa dokter aku dan Khumairah hanya bisa memanjatkan
doa kepada Allah.
Menunggu dua menit dokter keluar dan menyerahkan satu
amplop, aku langsung membukanya dan ternyata,
“Dok,
dok gak salah kan ?, ini gak mungkin!”
“Saya
minta maaf, ini faktanya. Penyakit Ataksia yang anda alami sudah memasuki
stadium 3, saya kira umur anda tidak panjang lagi, penyakit ini sudah
menggorogoti semua saraf yang ada di tulang belakang anda.”
“Gak,gak
mungkin,”
“Abia
yang sabar yah, mungkin Allah punya rencana lain dibalik semua ini dan saranku
kamu segeralah beritahukan orang tuamu, dengan begitu mereka mungkin akan
mengerti dengan keadaan kamu sekarang,”hibur Khumairah
“Tapi
bagaimana caranya, aku takut mereka sedih atau malah sangat kecewa atas perbuatanku”
“Kan
kamu belum coba, mungkin mereka akan senang atas kejujuranmu, daripada kamu
hanya memendamnya, itu hanya bisa membuatmu semakin sakit dan terpuruk,”
“Terima
kasih yah khumairah, aku akan coba mengirim surat ke Indonesia dan menjelaskan
semua tentang penyakitku ini,”
Dokter
yang melihat keharuan itu ikut menangis.Kami langsung keluar dari ruang dokter
dan tiba-tiba kami mendapati Shafhun Jamil dekat pintu dan itu membuat kami
kaget atas kejadian itu, akupun pun bertanya.
“Kamu
lagi ngapain di sini ??
“Aku……aku….
Kesini ambil hasil otopsi kedua orang tuaku dan tidak sengaja aku mendengar
perbincangan kamu dengan dokter, aku turut prihatin yah dan soal di metro mini
aku minta maaf .!”
“Tidak apa-apa kok, kamu memang benar aku
harus beritahukan kedua orang tuaku dan katamu tadi kamu kesini mau ambil hasil otopsi memangnya kedua orang tuamu
kenapa ???”
“Oh
iya, aku belum beri tahu kalian, sebenarnya kedua orang tuaku telah meninngal
dalam kecelakaan pesawat saat berkunjung ke Jerman untuk menengok nenek yang
lagi sakit tapi, maut menjemputnya lebih dulu, eh kenapa aku jadi curhat yah
sama kalian,”
“Nggak
apa-apa kok dan maafin kami yah, kami sudah membuatmu sedih dan kami turut
berduka cita atas apa yang menimpa kamu,”
Waktu
telah menunjukkan pukul 18.00, tidak terasa kami berada di PUSKESMAS dua jam.
“Abia,
sudah maghrib nih kita harus pulang kasihan teman-teman pasti mereka nungguin
kita, apalagi kita tidak beritahukan mereka.”
“Yuk,
aku juga mau cepat-cepat pulang takut kehabisan waktu salat maghrib,”
“Etss..
sama aku saja pulangnya, kitakan satu arah mumpung aku naik mobil nih”
“Baiklah,
yuk,”
***
Sampai
di rumah aku langsung masuk kamar dan memikirkan apa yang harus kulakukan agar
kedua orang tuaku mengerti dengan penjelasanku nanti, tiba-tiba ponselku
bordering ternyata SMS dari shafhun.
“Assalamu’alaika,
maaf ganggu kamu udah tidur yah ??”
“Wa’alaika
salamullahi wa rahmatuhu wa barakatuh, aku baru mau tidur nih, emangnya kenapa
??”
“Aku
hanya mau nanya mengenai perbincangan kamu dengan Khumairah di ruang dokter,
apa kamu sudah siap dengan segala resikonya??
“Alhamdulillah
saya siap, karena saya yang berbuat dan pastinya saya harus mananggung dari
apapun yang nanti akan terjadi,”
“Kamu
memang wanita tegar yang pernah saya kenal dan semoga sukses yah, good night.”
“Terima
kasih yah, good night too…”
Aku
kemudian menelentangkan badan di atas kasur.Aku ingat kejadian saat bertemu
shafhun di metro mini yang sangat membenciku tetapi sekarang dia adalah salah
satu orang yang menjadi sahabat terbaikku yang sangat perhatian padaku,ah
inikah CINTA apakah dia juga merasakan apa yang kurasakan, rasanya CINTA itu
sangat dekat denganku ya Rabbi.
Saatnya
tidur. Baru dua detik mata terpejam ponselku menjerit. Nomor tak kukenal. Siapa
yah? Kuangkat.
“Assalamualaikum,”
Suara
serak terdengar.
“Waalaikum
salam. Ini siapa yah? Jawabku balik bertanya
“Ini
dari Indonesia nak, ayah mau bicara nih,”
“Oh
dari ayah,aku rindu sekali sama ayah dan ibu.”
“Iya
nak, kami disini pun sangat merindumu sampai-sampai kami pergi ke kota untuk
meminjam telepon rumah pamanmu, hanya untuk mendengar suaramu nak, ibumu lagi
sakit dan ayah akan memberitahukan kamu akan satu rahasia,”
“kalau
rahasia mengapa tidak menunggu aku pulang ke Indonesia,?”
“Kamu
pulang ke Indonesia masih lama, sedangkan ayah dan ibu sekarang sudah
sakit-sakitan, menurut kami umur kami tidak akan sanggup menunggumu dan mungkin
kelak jika kamu pulang kamu akan sukses dan mungkin kamu juga akan membawa
seorang pendamping hidup yang akan selalu menyayangimu melebihi ayah dan ibu,”
“Mengapa
ayah berkata begitu, ayah dan ibu harus menunggu aku, aku ingin kalian berada dalam
kesuksesanku nanti,”
“Abia
ada yang lebih berhak mendampingimu selain kami.Yah, ayah dan ibu telah sepakat
akan memberi tahu kamu mengenai hal ini sebelum kamu berusia 20 tahun, tapi
kami sangat menyayangimu, jadi kami baru memberitahumu sekarang juga melalui
telepon karena kalau kamu kembali ke Indonesia hanya untuk satu rahasia ini
kami takut konsentrasi belajarmu akan terganggu,”
“Memangnya
rahasia apasih ayah,”
“Jadi
sebenarnya kamu bukan anak kandung kami, saat itu kami habis salat subuh di
mushala tiba-tiba di depan pintu rumah kami mendapat seorang bayi dan bayi itu
kamu Abia, Ayah serius Abia kalau tidak percaya tanya saja sama paman kamu,
karena saat kamu ayah dan ibu temukan pamanmu tinggal bersama kami,”
“Ini
tidak mungkin, ayah dan ibu adalah orang tuaku tidak ada yang lain,”
“Maafkan
ayah dan ibu Abia,”
Tampa
merespon ayah aku langsung menangis sejadi-jadinya mana mungkin ini semua harus
terjadi pada diriku, apa yang harus aku lakukan apa aku harus pulang ke
Indonesia atau tetap disini menunggu ajalku tiba, dan suasana menjadi
gelap..gelap dan entahlah.
***
Dalam
keremangan gelap aku melihat ada cahaya. Perlahan aku membuka mata, aku melihat
langit-langit berwarna biru. Bukan langit-langit kamarku kepalaku masih berat.
“Alhamdulillah,
kamu sudah siuman mbak,”suara Khumairah serak.
Aku
memandang di sekeliling ruangan dan ternyata Shafhun Jamil juga berada dalam
ruangan itu.
“Aku
..aku ..ada di mana ini.?”
“Tenang
mbak, sekarang kita ada di Rumah Sakit,”jawab Khumairah.
Tiba-tiba
shafhun datang menghampiriku dan berkata,
“Iya
Abia, kamu sekarang ada di Rumah Sakit, kemarin sebelum aku mau pergi ke lantai
empat aku telepon kamu tapi ponselmu tidak aktif, jadi aku kira penyakit kamu
kambuh, dan ternyata benar, disana saya
mendapatimu pinsang di dalam kamar, tapi tenang saja aku tidak berani kok’
menyentuh tubuhmu, aku panggil Khumairah dan teman-teman kamu jadi merekalah
yang membawa kamu ke sini,”
“Terima
kasih yah, atas pertolonganmu dan teman-teman, kalau kalian tidak ada mungkin
aku sudah tidak bersamamu lagi sekarang,”
“Mbak,
sebagai orang seagama dan sama-sama menimba ilmu di negeri orang, memang
menjadi kewajiban kami untuk menolong mbak,”
“Sekali
lagi, terima kasih yah,”
“Abia
ternyata ada yang mulai naksir tuh sama
kamu,”tukas Khumairah
“Siapa
sih yang suka sama cewek berpenyakitan
kayak aku ini ,?jawabku
“buktinya
ada kok, dan sekarang dia ada di ruangan in bersama kita,”
“Kamu
ada ada saja ngomonnya di sini kita hanya bertiga bersama Shafhun,”
“percaya
pada saya, ternyata selama ini Shafhun suka sama kamu”
Aliran
darahku seakan berhenti,bunga-bunga seakan bermekaran di hadapanku, seuntaian
tasbih kupersembahkan untuk sang ilahi, cinta yang telah lama aku pendam kepada
Shafhun kini terjawab dia juga menyukai aku. Aku pandang wajahnya yang pucat,
sepertinya dia malu terhadap pernyataan Khumairah.
“Khumairah
benar Abia, aku suka kepada kamu sejak kamu baru datang dari Indonesia, dan
soal di metro mini aku hanya cari perhatian kamu saja, tapi malah balik
dimarahi sama laki-laki itu.”tutur Shafhun.
Aku
dan Khumairah tertawa mendengar penuturan Shafhun, Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata dari Indonesia
.“Assalamualaikum
Abia,”
“Waalaikumsalam
paman, ada apa yah nelpon pagi-pagi ??”
“Abia,
ayah dan ibumu meninggal dunia, dan beliau memesan kepada kamu untuk tidak perlu
pulang”
Rasanya
bunga yang tadinya bermekaran kini berubah menjadi duri tajam yang
mengiris-iris kebahagian yang baru saja aku rasakan ini.
“Ini
tidak mungkin paman, tadi malam aku teleponan kok dengan ayah dan katanya dia
tidak apa-apa, hanya ibu yang kurang enak badan.”
“Sebenarnya
tadi malam, mereka di rawat di Rumah Sakit dan soal telepon itu, mereka hanya
ingin memberi tahu kamu tentang rahasia itu Abia”
“
Tapi kenapa mereka tidak mau aku pulang ke Indonesia ??”
“Mungkin,
mereka punya alasan tersendiri sehingga tidak menginginkan kamu pulang.dan
katanya kalau kamu nekat pulang, mereka akan menjadi orang tua yang sangat
kecewa terhadap tindakan kamu,”
“Tapi
aku mau melihat mereka untuk terakhir kalinya dan memperjelas mengenai siapa
orang tuaku yang sebenarnya.”
“Abia,
sebaiknya kamu relakan kedua orang tuamu dan mengenai orang tuamu sebenarnya,
pesan dari ayahmu kamu harus menyelesaikan studimu di Mesir baru kamu mencari
orang tuamu, karena ayah dan ibumu tidak tahu mengenai siapa dan dimana orang
tuamu sekarang,”
***
Aku
tidak tahu apa yang terjadi dalam hidupku, mungkin saja aku punya banyak
kesalahan selama ini sehingga, Tuhan memberiku cobaan yang sangat berat dan
rasanya aku tak bisa memikulnya sendiri.
Penyakitku,
kisah cinta aku kepada Shafhun, soal orang tuaku yang entah dia siapa, dan
kematian ayah dan ibu semuanya sangat berat saya pikul dari kondisiku sekarang
tak ada tempat mengadu kecuali kepada Allah, khumairah dan Shafhun Jamil mereka
adalah inspirasiku untuk bertahan hidup di negeri orang.
Ya
Allah mungkin ini terakhir kalinya aku memohon kepadamu, dan mungkin juga di
sinilah aku akan menghembuskan napas terakhirku, aku memohon kepadamu ampunilah
dosa yang pernah aku perbuat dan dosa keempat orang tuaku, aku ikhlas menerima
cobaanmu dan sekarang aku mengerti apa arti dari KEJUJURAN itu dan aku bangga
kepada ayah dan ibu yang telah mendidikku selama ini arti dari sebuah KEJUJURAN.
Bayangan semakin gelap, cahaya di kejauhan sana sudah menunggu dari tadi, ayah
dan ibu sudah menjemput, perjalanan yang sangat melelahkan.
SELESAI
Malam
yang melelahkan, aku harus memperbaiki hafalanku karena besok pagi aku akan
pergi menuntut ilmu di bumi Kinanah (salah satu julukan untuk bumi Mesir).
Hingga
tiba saatnya aku harus pergi menuntut ilmu di negeri orang, sungguh berat
rasanya meninggalkan kedua orang tua dan teman-teman, apalagi kepergianku ini
tidak dihadiri kedua orang tuaku. Tapi apa boleh buat semua prosedur sudah saya
tanda tangani ditambah lagi mengenai penyakitku. Hanya keajaiban Tuhanlah yang
dapat mengubahnya.
Waktu
menunjukkan pukul 15.00 waktu Mesir rombongan kami sampai di bandara , sungguh
sangat menakjubkan, kota sejarah ini dapat memikat kami hingga kami menyerukan
Allahuakbar Allahuakbar.
Sebelum
pergi ke rumah yang akan kami tempati, kami akan singgah terlebih dahulu di
Universitas Al Azhar yang nantinya akan menjadi tempat di mana aku menimba
ilmu, insya Allah.Sepulang dari Al Azhar saatnya kami pergi ke rumah baru, di
sana banyak mahasiswa yang berasal dari Indonesia, saya sangat senang, kami
cepat akrab dengan mereka karena mereka baik-baik dan lebih senangnya lagi ada
mahasiswa dari Bulukumba.
Rumah
yang kami tinggali berlantai lima dan kamar kami berada di lantai dua,
sedangkan di lantai pertama mayoritas mahasiswanya dari Jerman, mereka tinggal
berempat dan semuanya laki-laki, merekapun sangat ramah kepada kami.
***
Hari
pertama masuk kuliah, aku dan teman-teman berencana naik metro mini yang
katanya selain murah juga mengasyikkan, dan sebagai orang baru akupun menurut,
tampa saya sadari ketika berniat mengjangkau tempat duduk rasanya aku tidak
dapat bergerak, para penumpang heran dengan kejadian itu, sampai pada akhirnya
teman-teman mendesakku untuk menceritakan semua yang terjadi padaku, dan akupun
menceritakan semuanya mengenai penyakitku dan ketidaktahuan kedua orang tuaku
akan hal ini.
Mendengar
ceritaku semua penumpang metro mini terdiam, entah apa yang mereka pikirkan
mungkin sangat membenciku atau sebaliknya merasa kasihan denganku. Lain dengan penumpang yang duduk di
belakangku, Shafhun Jamil yang juga menjadi tetangga rumah kosku dia malah
menggertakku dan merasa benci kepadaku.
“hy
orang Indonesia, kamu tahu nggak kamu itu beruntung masih punya orang tua yang sayang
padamu tapi, mengapa kamu kecewakan mereka dengan kebohonganmu itu, kamu
sungguh keterlaluan,”bentak Shafhun.
Tiba-tiba
dari arah depan datang seorang pemuda paruh baya, seakan dia membelaku.
“Akhi,kamu
ini berpendidikan, kamu sangat lancang dalam mengucapkan suatu perkataan tampa
mengetahui pokok permasalannya, tahu nggak apa yang barusan akhi ucapkan itu
sudah dapat menyakitkan hati orang lain, apalagi seorang perempuan, mungkin dia
punya alasan tertentu sehingga dia tidak memberitahukan orang tuanya,”seloroh
pemuda tersebut.
Mendengar
pemuda itu, Shafhun kembali duduk di tempatnya semula dan keadaan di metro mini
pun kembali senyap, hanya ada beberapa orang yang berbisik mengenai kejadian
tadi.
***
Panas
di siang hari memang menjadi andalan setiap hari negeri Mesir.Tak urung setiap
liburan, kami yang tinggal di lantai dua hanya bisa bersenda gurau di dalam
kamar dan sesekali mengulang materi pelajaran atau kembali mengulang hafalan
Al-Quran.
Mengingat
kejadian di metro mini, aku langsung ingat mengenai penyakitku selama tinggal
di Mesir aku belum pernah pergi periksa ke dokter, dan rencananya sore nanti
aku akan mengajak khumairah untuk menemaniku ke PUSKESMAS.
Sore
akhirnya tiba, suhu di luar rumah pun mulai turun,dan Khumairah sudah menunggu
dari tadi, tepat pukul 16.00 kami berangkat ke PUSKESMAS, di sana banyak sekali
pengunjung dan sesekali kami melihat beberapa orang yang di bopong masuk ke
dalam ruang UGD dalam hati saya memikirkan betapa sedihnya orang tuaku jika
mereka tahu akan penyakitku pastinya mereka akan seperti keluarga pasien
seperti yang kami lihat sekarang, mengurus inilah, mengurus itulah.
Dalam
lamunanku, tiba-tiba Khumairah menarik lenganku menuju ruang dokter yang kami
tuju, dokternya ramah dan mampu berbahasa Indonesia, saya pun diajak ke ruang
pemeriksaan. Setelah diperiksa dokter aku dan Khumairah hanya bisa memanjatkan
doa kepada Allah.
Menunggu dua menit dokter keluar dan menyerahkan satu
amplop, aku langsung membukanya dan ternyata,
“Dok,
dok gak salah kan ?, ini gak mungkin!”
“Saya
minta maaf, ini faktanya. Penyakit Ataksia yang anda alami sudah memasuki
stadium 3, saya kira umur anda tidak panjang lagi, penyakit ini sudah
menggorogoti semua saraf yang ada di tulang belakang anda.”
“Gak,gak
mungkin,”
“Abia
yang sabar yah, mungkin Allah punya rencana lain dibalik semua ini dan saranku
kamu segeralah beritahukan orang tuamu, dengan begitu mereka mungkin akan
mengerti dengan keadaan kamu sekarang,”hibur Khumairah
“Tapi
bagaimana caranya, aku takut mereka sedih atau malah sangat kecewa atas perbuatanku”
“Kan
kamu belum coba, mungkin mereka akan senang atas kejujuranmu, daripada kamu
hanya memendamnya, itu hanya bisa membuatmu semakin sakit dan terpuruk,”
“Terima
kasih yah khumairah, aku akan coba mengirim surat ke Indonesia dan menjelaskan
semua tentang penyakitku ini,”
Dokter
yang melihat keharuan itu ikut menangis.Kami langsung keluar dari ruang dokter
dan tiba-tiba kami mendapati Shafhun Jamil dekat pintu dan itu membuat kami
kaget atas kejadian itu, akupun pun bertanya.
“Kamu
lagi ngapain di sini ??
“Aku……aku….
Kesini ambil hasil otopsi kedua orang tuaku dan tidak sengaja aku mendengar
perbincangan kamu dengan dokter, aku turut prihatin yah dan soal di metro mini
aku minta maaf .!”
“Tidak apa-apa kok, kamu memang benar aku
harus beritahukan kedua orang tuaku dan katamu tadi kamu kesini mau ambil hasil otopsi memangnya kedua orang tuamu
kenapa ???”
“Oh
iya, aku belum beri tahu kalian, sebenarnya kedua orang tuaku telah meninngal
dalam kecelakaan pesawat saat berkunjung ke Jerman untuk menengok nenek yang
lagi sakit tapi, maut menjemputnya lebih dulu, eh kenapa aku jadi curhat yah
sama kalian,”
“Nggak
apa-apa kok dan maafin kami yah, kami sudah membuatmu sedih dan kami turut
berduka cita atas apa yang menimpa kamu,”
Waktu
telah menunjukkan pukul 18.00, tidak terasa kami berada di PUSKESMAS dua jam.
“Abia,
sudah maghrib nih kita harus pulang kasihan teman-teman pasti mereka nungguin
kita, apalagi kita tidak beritahukan mereka.”
“Yuk,
aku juga mau cepat-cepat pulang takut kehabisan waktu salat maghrib,”
“Etss..
sama aku saja pulangnya, kitakan satu arah mumpung aku naik mobil nih”
“Baiklah,
yuk,”
***
Sampai
di rumah aku langsung masuk kamar dan memikirkan apa yang harus kulakukan agar
kedua orang tuaku mengerti dengan penjelasanku nanti, tiba-tiba ponselku
bordering ternyata SMS dari shafhun.
“Assalamu’alaika,
maaf ganggu kamu udah tidur yah ??”
“Wa’alaika
salamullahi wa rahmatuhu wa barakatuh, aku baru mau tidur nih, emangnya kenapa
??”
“Aku
hanya mau nanya mengenai perbincangan kamu dengan Khumairah di ruang dokter,
apa kamu sudah siap dengan segala resikonya??
“Alhamdulillah
saya siap, karena saya yang berbuat dan pastinya saya harus mananggung dari
apapun yang nanti akan terjadi,”
“Kamu
memang wanita tegar yang pernah saya kenal dan semoga sukses yah, good night.”
“Terima
kasih yah, good night too…”
Aku
kemudian menelentangkan badan di atas kasur.Aku ingat kejadian saat bertemu
shafhun di metro mini yang sangat membenciku tetapi sekarang dia adalah salah
satu orang yang menjadi sahabat terbaikku yang sangat perhatian padaku,ah
inikah CINTA apakah dia juga merasakan apa yang kurasakan, rasanya CINTA itu
sangat dekat denganku ya Rabbi.
Saatnya
tidur. Baru dua detik mata terpejam ponselku menjerit. Nomor tak kukenal. Siapa
yah? Kuangkat.
“Assalamualaikum,”
Suara
serak terdengar.
“Waalaikum
salam. Ini siapa yah? Jawabku balik bertanya
“Ini
dari Indonesia nak, ayah mau bicara nih,”
“Oh
dari ayah,aku rindu sekali sama ayah dan ibu.”
“Iya
nak, kami disini pun sangat merindumu sampai-sampai kami pergi ke kota untuk
meminjam telepon rumah pamanmu, hanya untuk mendengar suaramu nak, ibumu lagi
sakit dan ayah akan memberitahukan kamu akan satu rahasia,”
“kalau
rahasia mengapa tidak menunggu aku pulang ke Indonesia,?”
“Kamu
pulang ke Indonesia masih lama, sedangkan ayah dan ibu sekarang sudah
sakit-sakitan, menurut kami umur kami tidak akan sanggup menunggumu dan mungkin
kelak jika kamu pulang kamu akan sukses dan mungkin kamu juga akan membawa
seorang pendamping hidup yang akan selalu menyayangimu melebihi ayah dan ibu,”
“Mengapa
ayah berkata begitu, ayah dan ibu harus menunggu aku, aku ingin kalian berada dalam
kesuksesanku nanti,”
“Abia
ada yang lebih berhak mendampingimu selain kami.Yah, ayah dan ibu telah sepakat
akan memberi tahu kamu mengenai hal ini sebelum kamu berusia 20 tahun, tapi
kami sangat menyayangimu, jadi kami baru memberitahumu sekarang juga melalui
telepon karena kalau kamu kembali ke Indonesia hanya untuk satu rahasia ini
kami takut konsentrasi belajarmu akan terganggu,”
“Memangnya
rahasia apasih ayah,”
“Jadi
sebenarnya kamu bukan anak kandung kami, saat itu kami habis salat subuh di
mushala tiba-tiba di depan pintu rumah kami mendapat seorang bayi dan bayi itu
kamu Abia, Ayah serius Abia kalau tidak percaya tanya saja sama paman kamu,
karena saat kamu ayah dan ibu temukan pamanmu tinggal bersama kami,”
“Ini
tidak mungkin, ayah dan ibu adalah orang tuaku tidak ada yang lain,”
“Maafkan
ayah dan ibu Abia,”
Tampa
merespon ayah aku langsung menangis sejadi-jadinya mana mungkin ini semua harus
terjadi pada diriku, apa yang harus aku lakukan apa aku harus pulang ke
Indonesia atau tetap disini menunggu ajalku tiba, dan suasana menjadi
gelap..gelap dan entahlah.
***
Dalam
keremangan gelap aku melihat ada cahaya. Perlahan aku membuka mata, aku melihat
langit-langit berwarna biru. Bukan langit-langit kamarku kepalaku masih berat.
“Alhamdulillah,
kamu sudah siuman mbak,”suara Khumairah serak.
Aku
memandang di sekeliling ruangan dan ternyata Shafhun Jamil juga berada dalam
ruangan itu.
“Aku
..aku ..ada di mana ini.?”
“Tenang
mbak, sekarang kita ada di Rumah Sakit,”jawab Khumairah.
Tiba-tiba
shafhun datang menghampiriku dan berkata,
“Iya
Abia, kamu sekarang ada di Rumah Sakit, kemarin sebelum aku mau pergi ke lantai
empat aku telepon kamu tapi ponselmu tidak aktif, jadi aku kira penyakit kamu
kambuh, dan ternyata benar, disana saya
mendapatimu pinsang di dalam kamar, tapi tenang saja aku tidak berani kok’
menyentuh tubuhmu, aku panggil Khumairah dan teman-teman kamu jadi merekalah
yang membawa kamu ke sini,”
“Terima
kasih yah, atas pertolonganmu dan teman-teman, kalau kalian tidak ada mungkin
aku sudah tidak bersamamu lagi sekarang,”
“Mbak,
sebagai orang seagama dan sama-sama menimba ilmu di negeri orang, memang
menjadi kewajiban kami untuk menolong mbak,”
“Sekali
lagi, terima kasih yah,”
“Abia
ternyata ada yang mulai naksir tuh sama
kamu,”tukas Khumairah
“Siapa
sih yang suka sama cewek berpenyakitan
kayak aku ini ,?jawabku
“buktinya
ada kok, dan sekarang dia ada di ruangan in bersama kita,”
“Kamu
ada ada saja ngomonnya di sini kita hanya bertiga bersama Shafhun,”
“percaya
pada saya, ternyata selama ini Shafhun suka sama kamu”
Aliran
darahku seakan berhenti,bunga-bunga seakan bermekaran di hadapanku, seuntaian
tasbih kupersembahkan untuk sang ilahi, cinta yang telah lama aku pendam kepada
Shafhun kini terjawab dia juga menyukai aku. Aku pandang wajahnya yang pucat,
sepertinya dia malu terhadap pernyataan Khumairah.
“Khumairah
benar Abia, aku suka kepada kamu sejak kamu baru datang dari Indonesia, dan
soal di metro mini aku hanya cari perhatian kamu saja, tapi malah balik
dimarahi sama laki-laki itu.”tutur Shafhun.
Aku
dan Khumairah tertawa mendengar penuturan Shafhun, Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata dari Indonesia
.“Assalamualaikum
Abia,”
“Waalaikumsalam
paman, ada apa yah nelpon pagi-pagi ??”
“Abia,
ayah dan ibumu meninggal dunia, dan beliau memesan kepada kamu untuk tidak perlu
pulang”
Rasanya
bunga yang tadinya bermekaran kini berubah menjadi duri tajam yang
mengiris-iris kebahagian yang baru saja aku rasakan ini.
“Ini
tidak mungkin paman, tadi malam aku teleponan kok dengan ayah dan katanya dia
tidak apa-apa, hanya ibu yang kurang enak badan.”
“Sebenarnya
tadi malam, mereka di rawat di Rumah Sakit dan soal telepon itu, mereka hanya
ingin memberi tahu kamu tentang rahasia itu Abia”
“
Tapi kenapa mereka tidak mau aku pulang ke Indonesia ??”
“Mungkin,
mereka punya alasan tersendiri sehingga tidak menginginkan kamu pulang.dan
katanya kalau kamu nekat pulang, mereka akan menjadi orang tua yang sangat
kecewa terhadap tindakan kamu,”
“Tapi
aku mau melihat mereka untuk terakhir kalinya dan memperjelas mengenai siapa
orang tuaku yang sebenarnya.”
“Abia,
sebaiknya kamu relakan kedua orang tuamu dan mengenai orang tuamu sebenarnya,
pesan dari ayahmu kamu harus menyelesaikan studimu di Mesir baru kamu mencari
orang tuamu, karena ayah dan ibumu tidak tahu mengenai siapa dan dimana orang
tuamu sekarang,”
***
Aku
tidak tahu apa yang terjadi dalam hidupku, mungkin saja aku punya banyak
kesalahan selama ini sehingga, Tuhan memberiku cobaan yang sangat berat dan
rasanya aku tak bisa memikulnya sendiri.
Penyakitku,
kisah cinta aku kepada Shafhun, soal orang tuaku yang entah dia siapa, dan
kematian ayah dan ibu semuanya sangat berat saya pikul dari kondisiku sekarang
tak ada tempat mengadu kecuali kepada Allah, khumairah dan Shafhun Jamil mereka
adalah inspirasiku untuk bertahan hidup di negeri orang.
Ya
Allah mungkin ini terakhir kalinya aku memohon kepadamu, dan mungkin juga di
sinilah aku akan menghembuskan napas terakhirku, aku memohon kepadamu ampunilah
dosa yang pernah aku perbuat dan dosa keempat orang tuaku, aku ikhlas menerima
cobaanmu dan sekarang aku mengerti apa arti dari KEJUJURAN itu dan aku bangga
kepada ayah dan ibu yang telah mendidikku selama ini arti dari sebuah KEJUJURAN.
Bayangan semakin gelap, cahaya di kejauhan sana sudah menunggu dari tadi, ayah
dan ibu sudah menjemput, perjalanan yang sangat melelahkan.
SELESAI
BIODATA
Nama :
WARDA
Nomor
ponsel : 087 840 383 905 / 085 240 767 486
Alamat
Rumah : Jl. Dato Tiro, Kalumeme, Bulukumba (Sul-Sel)
Email :
wardawadda@yahoo.co.id
Bagusx ini blog,,spa adminx ini..???
BalasHapusMakasih senior...!!!
BalasHapusKH munawir al irfan batu karopa bulukumba masih hidup sampai hari ini...
BalasHapus