Pilih Kategori

Rabu, 15 Agustus 2012

CERPEN : Realita Kejujuran



Deru ombak menderai-derai di kejauhan sana. Semilir angin seakan membuat manusia masih ingin tertidur. Para nelayan pun berpulangan membawa rejeki untuk keluarganya. Lain dengan ayah dan ibuku, mereka sedari tadi sudah bangun bersiap-siap ke mushala untuk salat subuh.

Ayahku memang seorang kiai yang sangat disegani oleh warga, seorang alumni Pondok Pesantren Babul Khaer, KH.Munawir Al-Irfan demikian nama ayahku. Lain dengan ibuku, dia adalah seorang arsitek yang serba sibuk, akan tetapi tugas seorang ibu dan istri tidak ditinggalkan, Ir. Masyitoh itulah nama ibuku cantik bukan ??

Dari kecil ayah dan ibuku selalu mengajar aku untuk selalu bersikap jujur dari segala tindakan yang kulakukan agar kemudian hari kita dapat berguna bagi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga mereka berdua memberi aku nama Rabiah Al-Adawiah, katanya nama itu adalah nama seorang mistikus yang sangat tinggi derajatnya, dan dikenang sebagai ibu para sufi besar ( The Mother From the Grand Master ) dan sampai meninggal beliau dipuji sebagai ( Testimony of Belief ), mendengar cerita mereka aku sangat beruntung mendapat nama itu.

Dari tahun ke tahun aku bertambah besar, dan usiaku sudah mencapai 21 tahun, diusia yang tidak anak-anak lagi akupun selalu ikut dalam kegiatan sosial. Sebagai alumni Pondok Pesantren Babul Khaer seperti ayah, aku selalu aktif dalam kegiatan sosial keagamaan.

Hingga pada akhirnya aku dikuliahkan di Universitas Muslim Indonesia (UMI) jurusan dakwah, pada awalnya ibu berencana menjadikan aku seperti dia yaitu seorang arsitek, tapi atas kemauan ayah dan aku, ibu jadi ngalah.

Selama 3 bulan kuliah dan tinggal di tempat kos aku cukup senang, punya banyak teman, dan lebih senangnya lagi aku ditawari beasiswa ke Mesir dengan alasan aku anak yang cerdas, baik hati, dan juga satu-satunya mahasiswa yang hafal Al-Quran 30 jus, sungguh pujian yang sangat luar biasa.

Hingga pada suatu hari saat berkumpul dengan sahabatku, tiba-tiba aku berniat untuk mengambil pulpen akan tetapi tanganku rasanya tidak bisa menjangkau pulpen itu, dan itu sungguh mengagetkan aku terlebih-lebih para sahabatku, mereka menyangka aku punya penyakit, tapi aku hanya beralasan ini hanya kejadian biasa kok.
***

Minggu yang panas, aku teringat dengan kejadian saat berkumpul dengan sahabatku, aku berniat memeriksakan ke Rumah Sakit terdekat. Setelah diperiksa oleh seorang dokter, aku diminta untuk menunggu hasil laboratorim yang katanya tidak lama.

Setelah menerima hasil lab. Aku kaget dan tidak percaya akan hal yang menimpa diriku. Ataksia, iya itulah penyakitku. Mungkin penyakit itu terlalu asing bagi diriku tapi apa yang harus aku lakukan, penyakit itu sudah ada dalam tubuhku. Dan akupun terdiam memikirkan apa yang harus aku lakukan, aku tak mau kedua orang tuaku  tahu akan penyakitku, itu sama saja membuat mereka sedih. “Ya Allah apa yang harus aku perbuat’”.

Sampai di rumah, aku hanya terdiam di dalam kamar, tiba-tiba aku melihat di atas meja ada sepujuk surat ternyata dari ayah ibu.

Untuk sicantik
Rabiah Al-Adawiah         

          Apa kabar nak?semoga kamu selalu dalam lindungan ilahi.Amin.Kami di sini baik-baik saja dan sangat merindukanmu.

         Oh ya nak, ayah dengar kamu ditawari beasisiwa ke Mesir karena kamu hafal Al-Quran, kamu memang anak ayah yang paling cerdas. Ayah dan ibu berharap kamu menerima tawaran itu, karena itu penawaran yang sangat langka, dan kami sungguh bangga padamu dan jangan lupa kamu tetap bersikap baik kepada orang lain dan jujurlah dari segala apa yang kamu perbuat.Demikian yah surat dari ayah semoga kamu dapat mengambil keputusan yang berguna bagi kamu dan orang lain.
Yang Merindumu
Ayah dan Ibu


Melihat surat ayah aku jadi menangis, keduanya sangat menyayangiku dan menginginkan aku untuk menerima beasiswa itu, dan akupun tidak ingin mengecewakannya, dan soal penyakitku itu mungkin hanya Allah yang tahu. 

Matahari sudah terbit di sebelah timur, burung-burung sementara sibuk mengurus sarangnya, saatnya berangkat ke kampus untuk membicarakan tentang beasiswa yang aku setujui dan harapan aku dan kedua orang tuaku sebentar lagi akan segera terwujud.

Sepulang dari kampus aku langsung ke toko buku membeli beberapa kitab, tiba-tiba aku teringat surat dari ayah pastinya mereka menunggu balasan dariku, aku cepat-cepat pulang dan langsung menulis surat balasan.

Untuk Yang Terkasih
Ayah dan Ibu
Maaf yah ayah, Abia baru balas surat ayah. Alhamdulillah kabar Abia baik-baik aja dan semoga ayah dan ibu juga masih dalam lindungan sang khalik. Amin.

Ayah ibu terima kasih yah sebelumnya akan ketulusan cinta kalian kepadaku dan mengenai tawaran beasiswa itu aku terima dengan pertimbangan matang-matang, dengan salat istikharoh 3 malam berturut-turut.Oh ya, sudah tengah malam nih dan aku akan melanjutkan penghafalan Al-Quranku.
Dari Anakhda
Rabiah Al-Adawiah

Malam yang melelahkan, aku harus memperbaiki hafalanku karena besok pagi aku akan pergi menuntut ilmu di bumi Kinanah (salah satu julukan untuk bumi Mesir).

Hingga tiba saatnya aku harus pergi menuntut ilmu di negeri orang, sungguh berat rasanya meninggalkan kedua orang tua dan teman-teman, apalagi kepergianku ini tidak dihadiri kedua orang tuaku. Tapi apa boleh buat semua prosedur sudah saya tanda tangani ditambah lagi mengenai penyakitku. Hanya keajaiban Tuhanlah yang dapat mengubahnya.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 waktu Mesir rombongan kami sampai di bandara , sungguh sangat menakjubkan, kota sejarah ini dapat memikat kami hingga kami menyerukan Allahuakbar Allahuakbar.

Sebelum pergi ke rumah yang akan kami tempati, kami akan singgah terlebih dahulu di Universitas Al Azhar yang nantinya akan menjadi tempat di mana aku menimba ilmu, insya Allah.Sepulang dari Al Azhar saatnya kami pergi ke rumah baru, di sana banyak mahasiswa yang berasal dari Indonesia, saya sangat senang, kami cepat akrab dengan mereka karena mereka baik-baik dan lebih senangnya lagi ada mahasiswa dari Bulukumba.

Rumah yang kami tinggali berlantai lima dan kamar kami berada di lantai dua, sedangkan di lantai pertama mayoritas mahasiswanya dari Jerman, mereka tinggal berempat dan semuanya laki-laki, merekapun sangat ramah kepada kami.
***

Hari pertama masuk kuliah, aku dan teman-teman berencana naik metro mini yang katanya selain murah juga mengasyikkan, dan sebagai orang baru akupun menurut, tampa saya sadari ketika berniat mengjangkau tempat duduk rasanya aku tidak dapat bergerak, para penumpang heran dengan kejadian itu, sampai pada akhirnya teman-teman mendesakku untuk menceritakan semua yang terjadi padaku, dan akupun menceritakan semuanya mengenai penyakitku dan ketidaktahuan kedua orang tuaku akan hal ini.

Mendengar ceritaku semua penumpang metro mini terdiam, entah apa yang mereka pikirkan mungkin sangat membenciku atau sebaliknya merasa kasihan denganku. Lain dengan penumpang yang duduk di belakangku, Shafhun Jamil yang juga menjadi tetangga rumah kosku dia malah menggertakku dan merasa benci kepadaku.

“hy orang Indonesia, kamu tahu nggak kamu itu beruntung masih punya orang tua yang sayang padamu tapi, mengapa kamu kecewakan mereka dengan kebohonganmu itu, kamu sungguh keterlaluan,”bentak Shafhun.

Tiba-tiba dari arah depan datang seorang pemuda paruh baya, seakan dia membelaku.
“Akhi,kamu ini berpendidikan, kamu sangat lancang dalam mengucapkan suatu perkataan tampa mengetahui pokok permasalannya, tahu nggak apa yang barusan akhi ucapkan itu sudah dapat menyakitkan hati orang lain, apalagi seorang perempuan, mungkin dia punya alasan tertentu sehingga dia tidak memberitahukan orang tuanya,”seloroh pemuda tersebut.

Mendengar pemuda itu, Shafhun kembali duduk di tempatnya semula dan keadaan di metro mini pun kembali senyap, hanya ada beberapa orang yang berbisik mengenai kejadian tadi.

***

Panas di siang hari memang menjadi andalan setiap hari negeri Mesir.Tak urung setiap liburan, kami yang tinggal di lantai dua hanya bisa bersenda gurau di dalam kamar dan sesekali mengulang materi pelajaran atau kembali mengulang hafalan Al-Quran.

Mengingat kejadian di metro mini, aku langsung ingat mengenai penyakitku selama tinggal di Mesir aku belum pernah pergi periksa ke dokter, dan rencananya sore nanti aku akan mengajak khumairah untuk menemaniku ke PUSKESMAS.

Sore akhirnya tiba, suhu di luar rumah pun mulai turun,dan Khumairah sudah menunggu dari tadi, tepat pukul 16.00 kami berangkat ke PUSKESMAS, di sana banyak sekali pengunjung dan sesekali kami melihat beberapa orang yang di bopong masuk ke dalam ruang UGD dalam hati saya memikirkan betapa sedihnya orang tuaku jika mereka tahu akan penyakitku pastinya mereka akan seperti keluarga pasien seperti yang kami lihat sekarang, mengurus inilah, mengurus itulah.

Dalam lamunanku, tiba-tiba Khumairah menarik lenganku menuju ruang dokter yang kami tuju, dokternya ramah dan mampu berbahasa Indonesia, saya pun diajak ke ruang pemeriksaan. Setelah diperiksa dokter aku dan Khumairah hanya bisa memanjatkan doa kepada Allah.

Menunggu  dua menit dokter keluar dan menyerahkan satu amplop, aku langsung membukanya dan ternyata,
“Dok, dok gak salah kan ?, ini gak mungkin!”
“Saya minta maaf, ini faktanya. Penyakit Ataksia yang anda alami sudah memasuki stadium 3, saya kira umur anda tidak panjang lagi, penyakit ini sudah menggorogoti semua saraf yang ada di tulang belakang anda.”
“Gak,gak mungkin,”
“Abia yang sabar yah, mungkin Allah punya rencana lain dibalik semua ini dan saranku kamu segeralah beritahukan orang tuamu, dengan begitu mereka mungkin akan mengerti dengan keadaan kamu sekarang,”hibur Khumairah
“Tapi bagaimana caranya, aku takut mereka sedih atau malah sangat kecewa atas perbuatanku”
“Kan kamu belum coba, mungkin mereka akan senang atas kejujuranmu, daripada kamu hanya memendamnya, itu hanya bisa membuatmu semakin sakit dan terpuruk,”
“Terima kasih yah khumairah, aku akan coba mengirim surat ke Indonesia dan menjelaskan semua tentang penyakitku ini,”
Dokter yang melihat keharuan itu ikut menangis.Kami langsung keluar dari ruang dokter dan tiba-tiba kami mendapati Shafhun Jamil dekat pintu dan itu membuat kami kaget atas kejadian itu, akupun pun bertanya.
“Kamu lagi ngapain di sini ??
“Aku……aku…. Kesini ambil hasil otopsi kedua orang tuaku dan tidak sengaja aku mendengar perbincangan kamu dengan dokter, aku turut prihatin yah dan soal di metro mini aku minta maaf .!”
  “Tidak apa-apa kok, kamu memang benar aku harus beritahukan kedua orang tuaku dan katamu tadi kamu kesini mau ambil  hasil otopsi memangnya kedua orang tuamu kenapa ???”
“Oh iya, aku belum beri tahu kalian, sebenarnya kedua orang tuaku telah meninngal dalam kecelakaan pesawat saat berkunjung ke Jerman untuk menengok nenek yang lagi sakit tapi, maut menjemputnya lebih dulu, eh kenapa aku jadi curhat yah sama kalian,”
“Nggak apa-apa kok dan maafin kami yah, kami sudah membuatmu sedih dan kami turut berduka cita atas apa yang menimpa kamu,”
Waktu telah menunjukkan pukul 18.00, tidak terasa kami berada di PUSKESMAS dua jam.
“Abia, sudah maghrib nih kita harus pulang kasihan teman-teman pasti mereka nungguin kita, apalagi kita tidak beritahukan mereka.”
“Yuk, aku juga mau cepat-cepat pulang takut kehabisan waktu salat maghrib,”
“Etss.. sama aku saja pulangnya, kitakan satu arah mumpung aku naik mobil nih”
“Baiklah, yuk,”
                                                                   ***         
                   
Sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan memikirkan apa yang harus kulakukan agar kedua orang tuaku mengerti dengan penjelasanku nanti, tiba-tiba ponselku bordering ternyata SMS dari shafhun.

“Assalamu’alaika, maaf ganggu kamu udah tidur yah ??”
“Wa’alaika salamullahi wa rahmatuhu wa barakatuh, aku baru mau tidur nih, emangnya kenapa ??”
“Aku hanya mau nanya mengenai perbincangan kamu dengan Khumairah di ruang dokter, apa kamu sudah siap dengan segala resikonya??
“Alhamdulillah saya siap, karena saya yang berbuat dan pastinya saya harus mananggung dari apapun yang nanti akan terjadi,”
“Kamu memang wanita tegar yang pernah saya kenal dan semoga sukses yah, good night.”
“Terima kasih yah, good night too…”

Aku kemudian menelentangkan badan di atas kasur.Aku ingat kejadian saat bertemu shafhun di metro mini yang sangat membenciku tetapi sekarang dia adalah salah satu orang yang menjadi sahabat terbaikku yang sangat perhatian padaku,ah inikah CINTA apakah dia juga merasakan apa yang kurasakan, rasanya CINTA itu sangat dekat denganku ya Rabbi.

  Saatnya tidur. Baru dua detik mata terpejam ponselku menjerit. Nomor tak kukenal. Siapa yah? Kuangkat.

“Assalamualaikum,”
Suara serak terdengar.
“Waalaikum salam. Ini siapa yah? Jawabku balik bertanya
“Ini dari Indonesia nak, ayah mau bicara nih,”
“Oh dari ayah,aku rindu sekali sama ayah dan ibu.”
“Iya nak, kami disini pun sangat merindumu sampai-sampai kami pergi ke kota untuk meminjam telepon rumah pamanmu, hanya untuk mendengar suaramu nak, ibumu lagi sakit dan ayah akan memberitahukan kamu akan satu rahasia,”
“kalau rahasia mengapa tidak menunggu aku pulang ke Indonesia,?”
“Kamu pulang ke Indonesia masih lama, sedangkan ayah dan ibu sekarang sudah sakit-sakitan, menurut kami umur kami tidak akan sanggup menunggumu dan mungkin kelak jika kamu pulang kamu akan sukses dan mungkin kamu juga akan membawa seorang pendamping hidup yang akan selalu menyayangimu melebihi ayah dan ibu,”
“Mengapa ayah berkata begitu, ayah dan ibu harus menunggu aku, aku ingin kalian berada dalam kesuksesanku nanti,”

“Abia ada yang lebih berhak mendampingimu selain kami.Yah, ayah dan ibu telah sepakat akan memberi tahu kamu mengenai hal ini sebelum kamu berusia 20 tahun, tapi kami sangat menyayangimu, jadi kami baru memberitahumu sekarang juga melalui telepon karena kalau kamu kembali ke Indonesia hanya untuk satu rahasia ini kami takut konsentrasi belajarmu akan terganggu,”
“Memangnya rahasia apasih ayah,”
“Jadi sebenarnya kamu bukan anak kandung kami, saat itu kami habis salat subuh di mushala tiba-tiba di depan pintu rumah kami mendapat seorang bayi dan bayi itu kamu Abia, Ayah serius Abia kalau tidak percaya tanya saja sama paman kamu, karena saat kamu ayah dan ibu temukan pamanmu tinggal bersama kami,”
“Ini tidak mungkin, ayah dan ibu adalah orang tuaku tidak ada yang lain,”
“Maafkan ayah dan ibu Abia,”

Tampa merespon ayah aku langsung menangis sejadi-jadinya mana mungkin ini semua harus terjadi pada diriku, apa yang harus aku lakukan apa aku harus pulang ke Indonesia atau tetap disini menunggu ajalku tiba, dan suasana menjadi gelap..gelap dan entahlah.

***

Dalam keremangan gelap aku melihat ada cahaya. Perlahan aku membuka mata, aku melihat langit-langit berwarna biru. Bukan langit-langit kamarku kepalaku masih berat.
“Alhamdulillah, kamu sudah siuman mbak,”suara Khumairah serak.
Aku memandang di sekeliling ruangan dan ternyata Shafhun Jamil juga berada dalam ruangan itu.
“Aku ..aku ..ada di mana ini.?”
“Tenang mbak, sekarang kita ada di Rumah Sakit,”jawab Khumairah.
Tiba-tiba shafhun datang menghampiriku dan berkata,
“Iya Abia, kamu sekarang ada di Rumah Sakit, kemarin sebelum aku mau pergi ke lantai empat aku telepon kamu tapi ponselmu tidak aktif, jadi aku kira penyakit kamu kambuh,  dan ternyata benar, disana saya mendapatimu pinsang di dalam kamar, tapi tenang saja aku tidak berani kok’ menyentuh tubuhmu, aku panggil Khumairah dan teman-teman kamu jadi merekalah yang membawa kamu ke sini,”

“Terima kasih yah, atas pertolonganmu dan teman-teman, kalau kalian tidak ada mungkin aku sudah tidak bersamamu lagi sekarang,”

“Mbak, sebagai orang seagama dan sama-sama menimba ilmu di negeri orang, memang menjadi kewajiban kami untuk menolong mbak,”
“Sekali lagi, terima kasih yah,”
“Abia ternyata ada yang mulai naksir  tuh sama kamu,”tukas Khumairah
“Siapa sih yang suka sama cewek berpenyakitan  kayak aku ini ,?jawabku
“buktinya ada kok, dan sekarang dia ada di ruangan in bersama kita,”
“Kamu ada ada saja ngomonnya di sini kita hanya bertiga  bersama Shafhun,”
“percaya pada saya, ternyata selama ini Shafhun suka sama kamu”

Aliran darahku seakan berhenti,bunga-bunga seakan bermekaran di hadapanku, seuntaian tasbih kupersembahkan untuk sang ilahi, cinta yang telah lama aku pendam kepada Shafhun kini terjawab dia juga menyukai aku. Aku pandang wajahnya yang pucat, sepertinya dia malu terhadap pernyataan Khumairah.

“Khumairah benar Abia, aku suka kepada kamu sejak kamu baru datang dari Indonesia, dan soal di metro mini aku hanya cari perhatian kamu saja, tapi malah balik dimarahi sama laki-laki itu.”tutur Shafhun.

Aku dan Khumairah tertawa mendengar penuturan Shafhun, Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata dari Indonesia
.“Assalamualaikum Abia,”
“Waalaikumsalam paman, ada apa yah nelpon pagi-pagi ??”
“Abia, ayah dan ibumu meninggal dunia, dan beliau memesan kepada kamu untuk tidak perlu pulang”
Rasanya bunga yang tadinya bermekaran kini berubah menjadi duri tajam yang mengiris-iris kebahagian yang baru saja aku rasakan ini.
“Ini tidak mungkin paman, tadi malam aku teleponan kok dengan ayah dan katanya dia tidak apa-apa, hanya ibu yang kurang enak badan.”
“Sebenarnya tadi malam, mereka di rawat di Rumah Sakit dan soal telepon itu, mereka hanya ingin memberi tahu kamu tentang rahasia itu Abia”
“ Tapi kenapa mereka tidak mau aku pulang ke Indonesia ??”
“Mungkin, mereka punya alasan tersendiri sehingga tidak menginginkan kamu pulang.dan katanya kalau kamu nekat pulang, mereka akan menjadi orang tua yang sangat kecewa terhadap tindakan kamu,”
“Tapi aku mau melihat mereka untuk terakhir kalinya dan memperjelas mengenai siapa orang tuaku yang sebenarnya.”
“Abia, sebaiknya kamu relakan kedua orang tuamu dan mengenai orang tuamu sebenarnya, pesan dari ayahmu kamu harus menyelesaikan studimu di Mesir baru kamu mencari orang tuamu, karena ayah dan ibumu tidak tahu mengenai siapa dan dimana orang tuamu sekarang,”

***

Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam hidupku, mungkin saja aku punya banyak kesalahan selama ini sehingga, Tuhan memberiku cobaan yang sangat berat dan rasanya aku tak bisa memikulnya sendiri.

Penyakitku, kisah cinta aku kepada Shafhun, soal orang tuaku yang entah dia siapa, dan kematian ayah dan ibu semuanya sangat berat saya pikul dari kondisiku sekarang tak ada tempat mengadu kecuali kepada Allah, khumairah dan Shafhun Jamil mereka adalah inspirasiku untuk bertahan hidup di negeri orang.

Ya Allah mungkin ini terakhir kalinya aku memohon kepadamu, dan mungkin juga di sinilah aku akan menghembuskan napas terakhirku, aku memohon kepadamu ampunilah dosa yang pernah aku perbuat dan dosa keempat orang tuaku, aku ikhlas menerima cobaanmu dan sekarang aku mengerti apa arti dari KEJUJURAN itu dan aku bangga kepada ayah dan ibu yang telah mendidikku selama ini arti dari sebuah KEJUJURAN. Bayangan semakin gelap, cahaya di kejauhan sana sudah menunggu dari tadi, ayah dan ibu sudah menjemput, perjalanan yang sangat melelahkan.
SELESAI



BIODATA
Nama                        : WARDA
Nomor ponsel          : 087 840 383 905 / 085 240 767 486
Alamat Rumah        : Jl. Dato Tiro, Kalumeme, Bulukumba (Sul-Sel)                           
            Email                        : wardawadda@yahoo.co.id




3 komentar:

  1. Bagusx ini blog,,spa adminx ini..???

    BalasHapus
  2. KH munawir al irfan batu karopa bulukumba masih hidup sampai hari ini...

    BalasHapus